Nandar Iskandar, Dari Mbandung ke Mbantul
Ini adalah artikel tentang Pelatih Persiba Nandar Iskandar, artikel ini diambil dari sini. Mungkin bisa menjadi pengetahuan teman-teman semua
Sulit memahami Nandar Iskandar ketika dia menerima tawaran Persiba Bantul, Yogyakarta, klub kecil yang berkompetisi di divisi I yang, tentu saja, anggarannya pun kecil. Klub ini juga sempat porak-poranda lantaran Bantul digoyang gempa.
Padahal banyak pilihan lain bagi bekas pemain Persib Bandung ini. Nandar pernah ditawari melatih klub divisi utama, seperti Persib Bandung, PKT Bontang, dan Perseden Denpasar, tapi semua ditolaknya.
“Ini pengalaman baru bagi saya karena baru kali ini menangani klub divisi I. Saya ingin membantu Bantul agar bangkit dari sisi olahraga, khususnya sepak bola. Saya melihat animo masyarakat di sini cukup besar. Meski mereka masih berduka karena gempa, ada semangat untuk bangkit,” katanya kepada Tempo beberapa hari lalu.
Nandar, yang semula hanya melihat hancurnya Bantul dari televisi, menyaksikan sendiri rumah-rumah yang roboh rata dengan tanah serta ribuan warga yang masih tinggal di tenda.
“Kalau dipikir, mestinya saya menerima tawaran klub besar. Bayangkan, di Bantul, tiket masuk penonton sepak bola hanya Rp 3.000, sementara di Bandung mencapai Rp 100 ribu. Tapi mungkin jalan hidup saya memang harus ke sini,” kata Nandar, yang bakal menempati rumah kontrakan di sekitar Stadion Bantul.
Sebelum menangani Persiba Bantul, karier Nandar sebagai pelatih cukup moncer. Sejumlah klub pernah ditanganinya, sebut saja PKT Bontang (2000), Perseden Denpasar (2001), dan PSPS Pekanbaru (2002-2003). Bahkan jabatan pelatih kepala tim nasional Indonesia pernah disandangnya.
Untuk menjadi pelatih kepala, Nandar merangkak dari bawah. Awalnya dia menjadi asisten Sinyo Aliandoe, lalu menjadi asisten Bertje Matulapelwa, hingga menjadi asisten Sutan Harhara. Dia juga jadi asisten Rusdi Bahalwan ketika tim nasional mengikuti Piala Tiger di Vietnam. Saat itulah sebuah noda hitam muncul dalam sepak bola nasional: sepak bola gajah.
Ketika itu, kenang Nandar, Indonesia dan Thailand sudah dipastikan lolos ke semifinal. Tapi kedua kesebelasan ingin kalah untuk menghindari pertemuan dengan Vietnam. Mungkin karena bosan menunggu gol dari musuh tidak juga tercipta, akhirnya pemain belakang kita, Mursyid Effendi, memasukkan bola ke gawang sendiri. “Ini sangat memalukan,” kata Nandar, yang langsung ditunjuk sebagai pelatih kepala karena PSSI memecat Rusdi Bahalwan.
Sebelum malang-melintang di sejumlah klub, Nandar memulai kariernya sebagai pelatih dengan menangani klub yang dulu diperkuatnya, Persib Bandung. Mula-mula dia menjadi asisten, kemudian pada 1984 diminta oleh Gubernur Jawa Barat Solihin G.P. untuk menjadi pelatih utama Persib.
Dalam kompetisi nasional, klub yang bermaterikan pemain seperti Ajat Sudrajat, Robby Darwis, dan Sobur itu tampil di partai puncak, bertemu dengan PSMS Medan. Saat itu Persib kalah. Tapi, pada tahun berikutnya, Nandar mewujudkan keinginan masyarakat Bandung. Persib juara setelah di final menebas Perseman Manokwari, yang saat itu dibela Adolf Kabo. “Sepulang dari Jakarta, kami disambut seperti pahlawan,” ujarnya.
Yang membuat Nandar terharu, semua anggota tim, dari pengurus hingga pemain, mendapat hadiah rumah dari Wali Kota Bandung. Pengurus memperoleh rumah tipe 36 dan pemain mendapat tipe 21 di Perumnas Antapani, Bandung. “Itu rumah pertama yang saya miliki selama saya berkecimpung di dunia sepak bola,” ujarnya.
Kini dia harus meninggalkan rumah kesayangannya itu demi melatih Persiba Bantul. Nandar mulai mempersiapkan klub ini untuk mengikuti musim kompetisi 2007. Oleh manajemen Persiba, dia tidak diberi target muluk-muluk, cukup bisa bertahan di divisi I. “Tapi saya ingin membawa klub ini lebih baik lagi. Syukur bisa menyusul dua saudaranya, PSS Sleman dan PSIM Yogyakarta, yang berada di divisi utama,” kata Nandar. SYAIFUL AMIN
Kalah Bersaing dengan Sofyan Hadi dkk
Saat jadi pemain, nama Nandar Iskandar memang tidak sepopuler Andjas Asmara, Sutan Harhara, atau Oyong Liza. Tapi setidaknya dia pernah menjadi pemain tim nasional junior dan sempat bergabung di tim nasional senior B pada 1970-an.
Nandar Iskandar lahir dari keluarga sepak bola. Ayahnya, Jayadi, merupakan pemain Persib Bandung pada 1950-an. Kedua kakaknya, Atang Muhtar dan Obon Syakban, juga mantan pemain Maung Bandung, julukan Persib.
Saat duduk di bangku SMA 6 Bandung, Nandar tercatat sebagai pemain klub UNI, klub anggota Divisi Utama Persib Bandung. “Ketika itu, saya beberapa kali tak naik kelas. Kakak dan ibu saya marah dan meminta saya berhenti main bola. Tapi akhirnya mereka luluh dan membiarkan saya terus bermain bola,” kata Nandar.
Setamat SMA, karier sepak bola Nandar mulai meningkat. Ia bergabung dengan Persib Junior yang dilatih Omo Suratmo dan Ade Dana. Tak lama kemudian, Nandar dipanggil memperkuat tim nasional junior untuk mengikuti Kejuaraan Asia Junior di Tokyo pada 1971.
Setelah mengikuti pemusatan latihan di Jakarta, Nandar bersama tim nasional terbang ke Tokyo. Dalam kejuaraan itu, Indonesia berada satu grup dengan India, Korea, dan Irak. Tim nasional tak bisa melewati babak penyisihan karena kalah oleh Korea dan Irak serta bermain seri saat bertemu dengan India.
Sepulang Nandar dari Tokyo, kariernya makin bersinar. Klubnya, Persib Bandung, mempromosikan Nandar untuk bergabung ke tim senior. Kebetulan, pada 1975, Indonesia mendapat undangan mengikuti Kejuaraan Aga Khan di India. PSSI membentuk dua tim nasional, A dan B. Nandar lolos seleksi dan bergabung di tim B. Sedangkan kelompok A diisi pemain yang sudah punya nama, di antaranya Ronny Pattinasarany, Andjas Asmara, dan Soetjipto Soentoro.
“Saya tidak tahu kenapa, tim B tak jadi diberangkatkan ke India untuk mengikuti Aga Khan. Setelah itu, saya tidak pernah lagi dipanggil masuk tim nasional karena kalah bersaing dengan gelandang yang lebih bagus, seperti Ronny Pattinasarany, Sofyan Hadi, dan Andjas Asmara,” kata Nandar.
Karier Nandar sebagai pemain sepak bola berakhir pada 1982 ketika kakinya ditebas lawan saat dia membela Persib dalam Kejuaraan Siliwangi Cup. Dokter yang merawatnya memvonis Nandar harus dioperasi, tapi ia menolak lantaran takut. Akhirnya, Nandar gantung sepatu karena tak mungkin lagi bisa berlari dan menendang bola seperti semula.
“Setelah itu, saya sedikit bingung karena hanya bola yang saya tahu. Keluarga saya tetap harus makan, padahal saya sudah tak mungkin lagi menjadi pemain. Akhirnya, saya memutuskan menjadi pelatih. Dan kebetulan pelatih Persib saat itu, Pak Omo Suratmo, mau menjadikan saya sebagai asistennya. Dari dia saya banyak belajar,” kata Nandar. SYAIFUL AMIN
3 Komentar
Kirim Komentar

Berita Terbaru
Pencarian Informasi
Foto di Flickr
Topik Berita Paserbumi
Didukung oleh


March 10th, 2008 at 7:06 pm
HIDUP KANG NANADAR !!!
March 21st, 2008 at 3:08 pm
Ua Nandar apa kabar?? Lama ga jumpa, mudah-mudahan ua bisa bawa Bantul menuju pentas divisi utama Henry dukung dari cilegon.
Henry_yang selalu ngeFans sama ua sampai kapanpun…
March 21st, 2008 at 3:26 pm
Sukses terus buat Ua Nandar, pantang menyerah…
Henry Cilegon